Beranda KH. Said Aqil Siroj Sejarah Burdah | Kiai Said Aqil Siroj

Sejarah Burdah | Kiai Said Aqil Siroj

9
BAGIKAN

Ka’ab bin Zuhair adalah seorang penyair. Sebelum memeluk Islam, ia pernah membuat tiga bait syair yang membuat nabi murka dan menghalalkan darahnya. Dalam syair itu, ia mencela kakaknya, Bujair bin Ka’ab yang telah masuk islam setelah bertemu nabi termasuk celaan kepada Abu Bakar as-Shiddiq. Ketika syair ini sampai ke telinga Rasulullah, beliau berkata, “siapa yang bertemu Ka’ab, maka bunuhlah dia”. Mendengar nabi saw murka, Bujair mengirimkan sebuah surat kepada adiknya tentang sabda Nabi tersebut dan mengajaknya untuk masuk Islam. Maka ia pun datang ke kota Madinah untuk menyatakan Islamnya dan menemui nabi yang ketika itu sedang berada di masjid. Ia pun menyatakan keislamannya di depan nabi dan merubah isi syair yang mencela Abu Bakar lalu melantunkan sebuah syair yang keindahannya diakui oleh para pakar bahasa, yang diawali dengan bait banat su’adu fa qolbil yauma matbulu.

بانت سعاد فقلبي اليوم متبول متيم إثرها لم يفد مكبو ل. ان الرسول لسيف يستضاء به مهند بسيف من سيوف الله مسلول

Ketika Ka’ab sedang melantunkan syairnya tersebut, Rasulullah memberi isyarat kepada sahabatnya untuk mendengarkan, bahkan Rasulullah lalu memberikan hadiah berupa sebuah burdah. Cerita tentang Ka’ab bin Zuhair diriwayatkan selengkapnya oleh al-Hakim dalam al mustadrok ala as-shohihain, juga disebutkan dalam al-ishobah karangan Ibnu Hajar al-Asqollani dan usdul ghobah karya Ibnul Atsir.

Sebagian cerita tentang Ka’ab tersebut disinggung oleh kiai Said dalam ceramah singkat di video ini. Dari tingkah Ka’ab inilah kemudian memuji-muji nabi seperti yang dilakukan orang saat melaksanakan maulidur rasul, bukan suatu hal yang bid’ah.

Ceramah ini disampaikan di masjid Istiqlal, 31 Oktober 2020.

Komentar