Beranda NU Talk 🔴 (LIVE) Inilah yang Membuat NU Tersebar Cepat di Indonesia

🔴 (LIVE) Inilah yang Membuat NU Tersebar Cepat di Indonesia

5
BAGIKAN

Sebagaimana disebutkan pada seri pertama, NU berdiri karena beberapa faktor, yakni situasi global dan lokal saat itu. (Simak episode 1: https://youtu.be/ctB21Dtuy34) seperti penjajahan, termasuk Indonesia.

Pada tahun 1600 hingga 1900, umat Islam di seluruh dunia mengalami kemuduruan sehingga mereka dengan mudah dijajah bangsa-bangsa Barat, termasuk Indonesia. Sebagai bangsa terjajah, jangankan melakukan pengembangan-pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mempertahankan hidup saja sangat susah. Umat Islam, bertolak dari ajaran agamanya dan rasa cinta airnya, berupaya bangkit melakukan perlawanan.

Perlawanan bangsa Indonesia Indonesia terjadi dari dari waktu ke waktu di berbagai wilayah. Mereka melakukan upaya membebaskan diri dari penjajahan dengan berbagai cara, mulai gerakan senjata seadanya secara sporadis hingga jalur organisasi dan pendidikan. Promotor perjuangan tersebut, kebanyakan adalah umat Islam yang dimotori jejaring para ulama dan santri. Namun, bangsa penjajah selalu ingin melanggenggkan penjajahannya. Tentu dengan dengan berbagai cara pula. Mulai dengan senjata, pengetahuan dan budaya yang ditanamkan kepada bangsa jajahannya, untuk kemudian dibenturkan dengan sesama bangsanya sendiri. Perbedaan paham yang telah diselesaikan ulama-ulama terdahulu dibangkitkan lagi. Tumbuhlah kalangan dengan paham baru yang menyalahkan amaliah umat Islam yang telah ada. Tidak hanya itu, bahkan menuduh sebagai sebuah kesesatan dan kemunduran. Padahal amaliah itu telah berlangsung berabad-abad, sambung-menyambung dari satu generasi ke generasi selanjutnya yang sampai kepada Rasulullah sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya karena bersumber dari ajaran Islam itu sendiri. Paham tersebut, alih-alih membawa kemajuan Islam justru menjadi keributan di dalam Islam sendiri. Di Indonesia, hal itu justru menyebabkan terjadinya perdebatan pertikaian masalah furu’iyah yang sebetulnya sudah diselesaikan oleh ulama terdahulu.

Situasi dunia yang menimpa umat Islam itulah yang kemudian menggerakkan ulama-ulama pesantren Ahlussunah wal Jamaah melahirkan organisasi bernama Nahdlatul Ulama. Mereka adalah produk dari persinggungannya dengan pemikiran dunia internasional di luar negeri, yakni ketika belajar di Kota Suci Mekkah yang berpegang teguh kepada Alquran, hadits, ijma’ qiyas, serta bermazahab empat yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali.

Kemudian, NU berupaya secepat mungkin untuk mendirikan cabang-cabang di berbagai daerah. Tiada lain maksudnya, sebagaimana disebutkan dalam AD/ART, untuk memperkuat Islam Ahlussunah wal Jamaah. Karena kalau terlambat bergerak, paham Ahlussunah wal Jamaah bisa terkikis habis.

Untuk kepentingan Ahlussunah wal Jamaah itulah, dilakukan percepatan mendirikan cabang. Cabang tersebut bertugas untuk membahas masalah di daerah masing-masing, kemudian mengirimkan perwakilannya pada kongres atau muktamar NU. Untuk mempercepat berdirinya cabang tersebbut, para kiai membentuk sebuah komisi yaitu Lajanatun Nashihin. Pada muktamar ketiga, di Surabaya pada 1927, para kiai memutuskan untuk membentuk Majelis Khamis atau Komisi Lima. Komisi yang dipimpin Kiai Shaleh Banyuwangi tersebut beranggota Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi Kudus dan Kiai Muharram Kediri.

Majelis itu memutuskan membentuk Lajnatun Nashihin, semacam komisi propaganda untuk menyiarkan NU ke berbagai daerah. Anggota Lajnatun Nashihin ini terdiri dari sembilan orang KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Raden Asnawi, KH Ma’shum, KH Mas Alwi, KH Musta’in, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Halim Leuwimunding dan KH Abdullah Ubaid. Komisi itu bertugas mendatangi berbagai daerah terutama Jawa dan Madura guna menjelaskan maksud dan tujuan NU, untuk kemudian mendirikan cabang di tempat-tempat tersebut. Menakjubkan dalam sepuluh tahun NU memiliki anggota 67 ribu dan cabangnya berada di 60 persen di seluruh Nusantara.

Untuk mendapatkan informasi seputar NU, atau kajian kitab kuning dari kiai-kiai NU, silahkan follow akun:

Instagram: @164channel.pbnu

Youtube: www.youtube.com/164Channel

Facebook: www.facebook.com/Channel164

Twitter: @Channel164

Komentar