Beranda Breaking news Anak Muda NU Gelar Nonton Bareng Film “Bumi Manusia”

Anak Muda NU Gelar Nonton Bareng Film “Bumi Manusia”

22
BAGIKAN

Sekitar seratus pemuda Nahdlatul Ulama menghadiri acara nonton bareng film “Bumi Manusia” yang digelar organisasi Forum Satu Bangsa (FSB) dan Tirto Institute, di Metropole Megaria Jakarta Pusat, Senin (19/8). Ketua FSB, Hery Azumi mengatakan, film ini bercerita tentang ketokohan RM Tirto Adhi Soerjo yang diperankan oleh Minke dalam novel Pramoedya Ananta Toer, dalam memperjuangkan ide-ide kemerdekaan dan kebangsaan dari awal abad ke-20 “Tirto Adhi Soerjo konsen dalam membangun wacana kebangsaan untuk berjuang memperjuangkan ide kemerdekaan,” kata Hery. Ditambah lagi, film ini menemukan momentumnya karena bertepatan dengan dua hal sekaligus; pertama film ini diluncurkan pada masa kemerdekaan pertenggahan bulan Agustus saat Indonesia sedang merakan hari kemerdekaan. Memontum kedua, lanjut Hery, film ini menemukan momentumnya untuk menumbuhkan kembali kecintaan pada tanah air, karena di saat yang bersamaan, Indonesia sedang diombang-ambingkan oleh situasi radikalisme dan terorisme. Di saat yang sama, Okky Tirto, cicit dari RM Tirto Adhi Soerjo menilai film ini sangat penting untuk membangkitkan semangan nasionalisme. “Nasionalisme muncul dalam keseharian, yang tak melulu harus heroik, dengan bedil, dan seterusnya. Namun, nasionalisme bisa muncul dari aktivitas keseharian, termasuk dari kritik yang dilontarkan dari surat kabar,” kata Okky. Okky tak segan melontarkan pujian pada Hanung Bramantyo dengan kata ‘cerdas’. “Hanung sangat cerdas mengocok emosi yang penonton,” katanya. Dari karyanya, diharapkan akan banyak anak millennial yang tidak apatis terhadap sejarah bangsa. Film karya Hanung Bramantyo ini sendiri diangkat dari novel berjudul Bumi Manusia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer saat dalam masa tahanan politik di Pulau Buru, Maluku. Ia merupakan novel pertama dari empat novel berseri; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca yang dikenal luas dengan dengan nama “Tertralogi Pulau Buru”. Buku ini, termasuk buku-buku Pram yang lain, sempat menjadi kontroversial di tanah air setelah mendapat larangan edar di jaman Orde Baru. Namun, pelarangan buku-buku itu di dalam negeri, tidak membuat buku itu ‘mati pasaran’. Justru, buku-buku tersebut telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dunia. **) Cuplikan film diambil dari Youtube Falcon Channel; Official Trailer BUMI MANUSIA

Komentar